Total Tayangan Halaman
Senin, 03 Januari 2011
15 Persen Kepala Keluarga di Bantul Menganggur
15 Persen Kepala Keluarga di Bantul Menganggur
Rabu, 8 Desember 2010 | 03:19 WIB
Bantul, Kompas - Sekitar 15 persen kepala keluarga di Bantul menganggur. Hal itu berdampak buruk bagi kesejahteraan keluarga karena nasib anak dan istri cenderung telantar. Untuk mengatasinya, mereka akan diberi pelatihan keterampilan sehingga bisa mengembangkan usaha sendiri.
Dari total 254.149 kepala keluarga, tercatat 38.194 orang di antaranya dalam kondisi menganggur. ”Angka tersebut berdasarkan pendataan keluarga sejahtera di 75 desa di Bantul. Keberadaan mereka tersebar merata di seluruh kecamatan dan desa,” kata Kepala Badan Kesejahteraan Keluarga Bantul Joko Sulasno Nimpuno, Senin (6/12).
Menurutnya, meskipun tersebar merata, jumlah terbanyak berada di Kecamatan Sewon dan Bambanglipuro, sedangkan jumlah terkecil justru di Kecamatan Dlingo yang selama ini dikenal sebagai daerah minus. ”Mereka dikategorikan menganggur karena pekerjaannya serabutan dan tidak tetap. Sebagian juga tengah mencari pekerjaan,” katanya.
Minimnya keterampilan membuat para kepala keluarga tersebut kesulitan mendapatkan pekerjaan. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah menyediakan program pelatihan keterampilan bekerja sama dengan dinas tenaga kerja dan transmigrasi. ”Dari lembaga kami juga menggelontorkan program penanggulangan kemiskinan keluarga dengan pemberdayaan lewat kelompok-kelompok. Mereka bisa mengajukan proposal pelatihan dan permodalan,” ujaranya.
Kuota terbatas
Secara terpisah, Kepala Bidang Penempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul Bambang Sugiyantoro mengatakan, meskipun pemerintah menyediakan program wirausaha mandiri, tetapi kuotanya sangat terbatas. Dalam setahun paling hanya ada 10 kuota.
Menurutnya, penyerapan kerja di tingkat lokal Bantul juga rendah. Sampai dengan akhir Oktober baru terealisasi 328 orang. Padahal, tahun lalu realisasinya 1.125 orang. Perkembangan industri yang cenderung stagnan menjadi penyebab rendahnya penyerapan tenaga kerja.
”Pabrik-pabrik yang beroperasi di Bantul tidak berkembang sehingga tidak butuh tambahan tenaga kerja. Mereka juga tidak memperluas usahanya. Beberapa di antaranya bahkan redup akibat gempa dan resesi ekonomi global. Akibatnya pengangguran tidak terserap banyak,” paparnya.
Solusi lain yang ditawarkan adalah mengikuti program transmigrasi. Tahun ini, kuota yang diterima Bantul sebanyak 130 kepala keluarga. (ENY)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar